Welcome to my site :-)
Jangan lupakan semua berkah yang telah engkau terima
Sungguh... Tuhan tak pernah tingalkan dirimu
dodix-zone. Diberdayakan oleh Blogger.
Home My Facebook My Twitter My Blog On Campus My Google+ Profile

19 Desember 2009

Diposting oleh dodix-zone

Pertanian merupakan bidang yang sangat strategis karena menyangkut berbagai sendi kehidupan manusia. Bagi Indonesia sebagai negara agraris, pertanian mempunyai makna yang sangat penting karena berbagai hal. Pertama, kebutuhan dasar manusia terutama pangan dan sandang berasal dari bidang pertanian. Bahan pangan, sayuran, buah, bahan industri makanan hanya dapat dipenuhi dari bidang pertanian. Selain itu, berbagai bahan olahan untuk sandang, karet, serat dan sebagainya yang dihasilkan melalui industri juga membutuhkan bahan baku dari pertanian. Secara politis, sebenarnya negara yang tidak mempunyai basis kehidupan di bidang pertanian mempunyai tingkat ketergantungan yang sangat besar dari negara lain karena suplai bahan pangan dan bahan baku industri pertaniannya berasal dari negara agraris. Dengan demikian keberadaan pertanian sangat menentukan keberlanjutan kehidupan manusia. Goncangan terhadap sektor pertanian dapat berimbas pada sektor ekonomi, politik, bahkan sosial budaya. Kedua, Indonesia mempunyai kekayaan plasma nutfah (sumber daya genetik) terbesar kedua setelah Brasil, namun pemanfaatannya belum optimal. Selain itu sumber daya manusia Indonesia sangat besar (jumlah penduduk no. 6 di dunia). Saat ini, Indonesia tercatat sebagai produsen beras terbesar ketiga di dunia, penghasil serealia terbesar keenam di dunia, penghasil karet no. 2 di dunia, produsen minyak sawit kedua di dunia, penghasil kopi no. 4 di dunia, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan potensi Indonesia sebagai produsen hasil pertanian sangat besar. Dengan peningkatan kemampuan sdm, peluang pengembangan dan eksplorasi sumber daya alam masih sangat terbuka. Ketiga, tingkat pertumbuhan jumlah penduduk dunia (termasuk Indonesia) yang sangat cepat merupakan peluang pasar yang besar bagi hasil pertanian tropis Indonesia. Dengan potensi yang dimilikinya, peluang Indonesia menguasai pasar hasil pertanian sangat terbuka sehingga mempunyai posisi tawar (bargaining possition) yang tinggi dibanding negara lain. Keempat, sektor pertanian telah terbukti mampu menghadapi gejolak ketika terjadi krisis multidimensional, sementara bidang yang lain mengalami goncangan yang signifikan. Hal ini terkait dengan sumber daya yang dibutuhkan dalam bidang pertanian sebagian berasal dari alam sehingga keberlanjutannya relatif tinggi.
Berbagai kelebihan bidang pertanian tersebut seharusnya menjadikan pendidikan tinggi pertanian sebagai sebuah pilihan utama calon mahasiswa. Ironisnya pada beberapa tahun terakhir animo calon mahasiswa untuk mengambil jurusan pertanian di perguruan tinggi justru menunjukkan penurunan. Hal ini terbukti dengan berkurangnya jumlah pendaftar dan jumlah mahasiswa yang melakukan herregistrasi pada sejumlah perguruan tinggi baik PTS maupun PTN. Sebagai akibatnya pada beberapa perguruan tinggi swasta, tidak mendapatkan atau sangat sedikit jumlah mahasiswa pertaniannya.
Rendahnya animo calon mahasiswa untuk memilih jurusan/program studi pertanian disebabkan oleh banyak hal, baik yang berasal dari internal institusi maupun faktor eksternal. Pertama, kesan yang menunjukkan bahwa pertanian selalu berhubungan dengan rakyat kecil, petani tua yang tidak berdaya, bergelut dengan lumpur, panas, kotor, dengan penghasilan rendah dan tidak menjanjikan masa depan, tampaknya tidak mudah untuk dihilangkan. Kondisi ini merupakan gambaran petani dan pertanian jaman dahulu. Padahal pada era teknologi seperti sekarang ini, pendidikan pertanian diarahkan menjadi untuk menghasilkan teknokrat bahkan enterpreneurship pertanian. Materi dan sistem pendidikan yang diterapkan juga sudah sangat berbeda dengan 10–20 tahun yang lalu. Bidang pertanian tidak lagi sempit hanya bercocok tanam di sawah tetapi sudah sangat berkembang teknologinya seperti kultur jaringan, hidroponik, aeroponik, rekayasa genetika, teknologi publikasi pertanian dan sebagainya, yang jauh dari kesan kotor dan tak punya masa depan. Dengan demikian, ruang lingkup pekerjaan sarjana pertanian tidak hanya yang berhubungan dengan budidaya tanaman di lahan tetapi juga lembaga penelitian, lembaga penelitian, instansi pemerintah, perusahaan agrobisnis, sampai wirausaha mandiri.
Ketiga, adalah keberpihakan pemerintah terhadap pertanian yang masih kurang. Penurunan subsidi sarana produksi pertanian yang berimbas pada tingginya harga sarana produksi pertanian, kebijakan bebas bea fiskal bagi import hasil pertanian, kebijakan beras import, tidak adanya insentif bagi petani dan sebagainya adalah contoh kebijiakan pemerintah yang kurang berpihak pada petani yang pada akhirnya menyebabkan berbagai masalah tingkat kesejahteraan petani yang tidak beranjak naik,. Ketika Susilo Bambang Yudoyono, seorang Doktor bidang pertanian diangkat sebagai Presiden RI, pada awalnya memunculkan banyak harapan akan kembali terangkatnya bidang pertanian. Walaupun pada awalnya, presiden telah menyampaikan secara khusus salah satu prioritas pembangunan adalah pertanian dan kehutanan, namun dalam kenyataanya justru kebijakan pemerintah banyak yang kurang berpihak pada pertanian dan petani.
Kedua, publikasi tentang pertanian di berbagai media massa baik cetak maupun elektronik lebih banyak menampilkan berita tentang kegagalan pertanian seperti banjir, kekeringan, serangan hama, puso, dan sebagainya, sehingga secara tidak langsung menjadi black campaine bagi calon mahasiswa. Dalam media massa nasional (terutama elektronik) sangat jarang ada berita yang mengexpose keberhasilan pertanian. Tanpa bermaksud untuk memperbandingkan, pada era Presiden Soeharto akan sangat mudah menemukan berita tentang keberhasilan pertanian, bahkan secara periodik televisi pemerintah menyiarkan paket kegiatan presiden yang terkait dengan pertanian, seperti sambung rasa petani, panen perdana, laporan khusus presiden dan sebagainya sehingga menjadi bahan publikasi yang baik bagi calon mahasiswa. Hal ini terbukti pada tahun 1980–1990an, jurusan di pertanian menjadi salah satu favorit bagi calon mahasiswa
Keempat, kurangnya publikasi dari institusi pertanian baik melalui kegiatan proses pembelajaran, penelitian maupun pengabdian masyarakat. Pertanian merupakan ilmu aplikatif (terapan) sehingga sudah seharusnya dalam implementasinya melibatkan segenap stakeholder pertanian sehingga secara tidak langsung berlangsung proses publikasi. Kelima, pendidikan ilmu dasar seperti biologi, kimia, fisika dan matematika yang terkait dengan ilmu pertanian di sekolah lanjutan, kurang memberikan contoh aplikasinya. Selain itu kegiatan ilmiah seperti karya ilmiah remaja, lomba pidato, penelitian dan sebagainya dengan tema tentang pertanian juga rendah sehingga pemahaman siswa tentang pertanian sangat rendah.
Mendasarkan pada sedemikian pentingnya peranan pertanian dan besarnya peluang pengembangan serta pasar pertanian, diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk pengelolaannya. Oleh karena itu, sudah selayaknya segenap komponen untuk saling berpartisipasi mengangkat kembali (revitalisasi) pertanian dan pendidikan pertanian di perguruan tinggi menjadi sebuah prioritas. Akan menjadi sangat ironis, jika sebuah negara agraris yang kaya dengan sumber daya alam, lahan, plasma nutfah dan sumber daya manusia, menjadi negara pengimport bahan pangan, menjadi pasar hasil pertanian negara lain, “dijajah negara lain“ dan menunggu belas kasihan negara lain.
Bagi pemerintah, berbagai kebijakan yang diambil seharusnya lebih berpihak pada pertanian dan petani sehingga dapatmeningkatkan taraf hidup petani. Selain itu, alokasi anggaran negara (APBN–APBD) untuk sektor pertanian lebih ditingkatkan sehingga pembangunan pertanian dapat mengalami percepatan. Pengembangan sumber daya manusia, penelitian serta pengembangan bidang pertanian seharusnya menjadi salah satu prioritas sehingga mampu memberdayakan tenaga dalam negeri dan bukan mempekerjakan orang asing di negeri ini. Selain itu, publikasi media massa baik elektronik dan cetak agar lebih proporsional sehingga keberhasilan teknologi pertanian dapat diketahui secara luas oleh masyarakat.
Bagi institusi pendidikan tinggi, sudah waktunya untuk memperbaiki kinerjanya melalui tri dharma perguruan tinggi. Peningkatan kualitas proses pembelajaran dengan perbaikan sistem, materi, ragam dan media pembelajaran secara tidak langsung akan menjadi publikasi yang baik. Peningkatan kualitas penelitian secara terprogram yang menghasilkan suatu teknologi pertanian, dapat diimplementasi ke pengguna baik melalui publikasi ilmiah maupun pengabdian pada masyarakat.
Bagi sekolah lanjutan, akan lebih baik apabila kajian mata pelajaran ilmu dasar juga tidak hanya dari sisi keilmuawannya (content), tetapi juga contoh–contoh penerapannya sehingga wawasan siswa menjadi lebih luas. Bagi perguruan tinggi, sudah selayaknya merubah sistem, metode dan ragam media pembelajaran untuk mengembangan sumber daya manusia yang handal dan mempunyai kompetensi di bidang pertanian. Pengembangan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktifitas dan mengangkat harkat dan martabat pelaku pertanian harus terus dilakukan melalui penelitian, kajian dan forum ilmiah lainnya.
Dengan peran serta semua komponen, kelak akan lahir kembali kejayaan pertanian di negeri agraris ini, insya Allah .........

| edit post

0 komentar:

Posting Komentar

Label

SMS ONLINE GRATIS